Saturday, June 6, 2015

Caulobacter crescentus Penghasil Lem Terkuat di Dunia



Caulobacter crescentus Penghasil Lem Terkuat di Dunia
Caulobacter crescentus

Tahukah Kamu??
Selama ini banyak produk zat perekat yang dihasilkan berbagai pabrikan di sejumlah Negara. Namun tahukah Kamu bahwa semua zat perekat buatan manusia tersebut belum ada apa-apanya dibanding lem produksi bakteri. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bakteri air tawar Caulobacter crescentus mengeluarkan semacam zat yang sangat lengket berbahan dasar gula. Saking lengketnya lem produksi bakteri tersebut mampu menahan tarikan beberapa mobil sekaligus Dengan kekuatan merekatkan hampir ton per inci persegi.

Morfologi
Caulobacter crescentus merupakan bakteri nonfotosintetik uniseluler. Bakteri ini mempunyai prosteca, stalk. Ujung distal bersifat adhesive, sel-sel C. crescentus dapat menempel pada substrat individu atau berkoloni, tiap koloni terdiri dari sejumlah sel memancar dari massa pusat bahan adesif. Caulobacter crescentus berkembangbiak dengan melakukan pembelahan biner asimetrik. Sel anak memiliki satu flagel polar. Setelah dewasa, anak akan kehilangan flagela nya dan mulai mengembangkan prosteca. Dalam sel dewasa (induk), prosteca dapat menunjukkan satu atau lebih pita bersilang, masing-masing menandai peralihan siklus selnya. (Prescott, Harley, Klein, 2005, Microbiology Sixth Edition). “Famili Caulobacteraceae sel berupa batang, lurus atau bengkok. Dalam fase mengembara, sel-sel mempunyai flagel. Dalam fase diam, sel-sel bertangkai. Tangkai melekat pada substrat. Gram negative. Pembiakan secara transversal. Flagel monotrik” (Dwidjoseputro, 2010. Dasar-Dasar Mikrobiologi). Caulobacter crescentus merupakan kingdom Bacteria, phylum Proteobacteria, kelas α-Proteobacteria, ordo Caulobacterales, family Caulobacteraceae, genus Caulobacter. “Alpha proteobacteria also include many nonphototrophic heterotrops of soil and water. Many aquatic and soil heterotrophs are oligotrophs adapted to extremely low nutrient concentrations; an example is Caulobacter crescentus” (Slonczewski dan Foster, 2009, Microbiology an evolving science).

Habitat
C. crescentus berkemampuan hidup dalam kondisi yang miskin nutrisi, yang menjelaskan keberadaannya dalam air bersih. C. crescentus tidak berbahaya bagi kesehatan manusia karena tidak menghasilkan racun bagi manusia. (Fakta Ilmiah, 2010, Caulobacter Penghasil lem terkuat). Menurut Dwidjoseputro dalam buku nya yang berjudul Dasar-daras Mikrobiologi (2010) menyatakan bahwa habitat Caulobacter crescentus di air tawar dan air laut.


Peran Ekologi
Caulobacter crescentus juga berperan penting dalam siklus karbon. Bakteri ini dapat memperoleh energi dan karbon dari pengurangan senyawa karbon. Ini sangat efisien dalam memperoleh molekul karbon yang digunakan untuk pertumbuhan, tanpa menambah sumber karbon (kiranya menyerap denga cukup senyawa karbon atmosphere). “that isi, it is a facultative methylotroph and can derive both energy and carbon from reduced one-carbon compounds. It is so efficient at acquiring one-carbon molecules that it can grow in a medium without an added carbon source (presumably the medium absorbs sufficient atmospheric carbon compounds)” (Prescott, Harley, Klein, 2005, Microbiology Sixth Edition).

Peranan Positif Caulobacter crescensus
Caulobacter crescentus, menghasilkan salah satu zat adhesif (lem) yang paling kuat di dunia, dan menggunakan lem tersebut untuk menempelkan dirinya sendiri di lingkungan yang basah. Bakteri ini memiliki dua tahap kehidupan, pertama pada saat berenang di lingkungannya dengan didorong oleh flagellum, dan tahapan kedua adalah pada saat menanamkan dirinya sendiri ke permukaan yang basah. Pada tahap ini, mekanisme pembuatan semen (lem) dan penguncian diri yang kompleks, menggantikan flagellum yang juga sangat kompleks. Riset ini dapat membantu para ilmuwan dalam pengembangan segala sesuatu, mulai dari pencuci WC sampai krim antibakteri (“Video Microscopy Unveils the Tricks of Nature’s Toughest Glue,” Popular Science, 10 Feb. 2012, koran.tempo.co). Para ilmuan menemukan kalau mereka harus memakai gaya sekitar 1 mikronewton untuk memisahkan satu bakteri Caulobacter crescentus dari pipet kaca. Karena C.crescentus sangat kecil, gaya tarik sekuat 1 mikronewton menghasilkan stress besar, besarnya 70 newton per milimeter persegi. Stress yang dapat ditahan oleh adhesi bakteri setara dengan 0.775 ton per cm persegi. Bandingkan dengan lem super komersial yang gaya gesernya hanya 18 hingga 28 newton per milimeter persegi. Secara hipotesis, lem produksi C. crescentus dapat diproduksi massal dan dipakai. Masalahnya adalah bagaimana memproduksi lem ini tanpa membuat lemnya lengket pada mesin pembuatnya. Bayangkan, untuk melepaskan lem ini dari daerah seluas buku tulis biasa, perlu tarikan lima buah mobil. (Fakta Ilmiah, 2010, Caulobacter Penghasil lem terkuat).

Peranan Negatif Caulobacter crescentus
Caulobacter crescentus menghasilkan lem terkuat di dunia. Dengan kekuatan lem tersebut, maka untuk melepaskan dari mesin pembuatnya perlu tenaga yang luar biasa. Bayangkan untuk melepaskan lem ini dari daerah seluas buku tulis biasa saja perlu tarikan lima buah mobil. Akan sangat membutuhkan tenaga dan biaya yang sangat banyak.

Kaitan dalam Masyarakat
Karena habitat Caulobacter crecentus ini hidup di air yang bersih, maka bakteri ini dapat dijadikan sebagai indikator pencemaran air oleh manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan. 2010.
Prescott, Harley dan Klein. Microbiology Sixth Edition. New York: The McGraw-Hill Companies.Inc. 2005.
Slonczewski, John dan Foster, John. Microbiology an Evolving Science. New York: Norton Company. 2009.
Anonim. Bakteri Pembuat Lem Terlengket di Bumi. http://koran.tempo.co/konten/2012/02/14/264669/Bakteri-Pembuat-Lem-Terlengket-di-Bumi. 2012. Diakses pada tanggal 05 Juni 2015 pukul 19.25 WIB.
The x, Caulobacter penghasil lem terkuat di dunia. http://www.faktailmiah.com/2010/09/28/caulobacter-penghasil-lem-terkuat-di-dunia.html. 2010. Diakses pada tanggal 05 Juni 2015 pukul 19.23 WIB.

Wednesday, April 22, 2015

Artikel Mikroba dalam Kehidupan sehari-hari : Mikroba dan Handuk 

 

 

Bakteri merupakan organisme sel tunggal yang berukuran sangat kecil. Bakteri hidup dimana-mana, termasuk di dalam tubuh kita ataupun benda-benda yang kita gunakan sehari-hari. Bakteri banyak berperan dalam proses yang terjadi di dalam tubuh kita baik yang menguntungkan atau merugikan. 

Handuk merupakan salah satu benda yang digunakan dalam kebutuhan kita sehari - hari. Kain tebal yang dapat menyerap cairan ini sering digunakan sebagai alat untuk menyerap keringat, mengeringkan badan, dan sebagainya. Handuk dengan segala fungsinya itu, apabila tidak diganti ataupun dicuci akan sangat rentan diserang oleh berbagai mikroba yang dapat membahayakan kesehatan. Tim peneliti yang diketuai pakar mikrobiologi Charles Gerba mengatakan handuk mandi bisa menjadi tempat bersarang kuman. Pasalnya, kondisi handuk yang lembab membuat bakteri dan jamur bisa tumbuh subur. Sementara, lap handuk pada dapur menjadi tempat utama bakteri berkembang karena biasa digunakan untuk membersihkan area-area yang kotor (ABC News, 2014). 

Handuk yang terlalu lama digunakan tanpa dicuci, maka dipastikan akan dapat mempercepat pertumbuhan bakteri yang terdapat pada handuk tersebut. Diperparah lagi jika musim penghujan datang, kondisi udara yang lembab akan menimbulkan berbagai jenis bakteri untuk berkembang dengan cepat. Pertumbuhan mikroba bergantung pada kemampuannya dalam membelah diri (pembelahan biner) dan laju pertumbuhan seperti waktu bergenerasi dan tahapannya. Pembagian sel bakteri terjadi melalui pembelahan biner dari satu sel menjadi dua. Selama pembelahan biner, sel induk akan membesar, menduplikatkan kromosom, dan membentuk sekat transversal di pusat sel sehingga membagi dua sel anak. Proses ini terus diulang pada waktu tertentu, sehingga dapat meningkatkan populasi bakteri (Meiry Fadilah Noor, 2011). 

Handuk mandi menyimpan lebih banyak bakteri berbahaya dibandingkan peralatan rumah tangga lainnya. Bakteri yang berkembang di dalam handuk dapat menimbulkan penyakit yang cukup serius terhadap tubuh kita, misalnya penyakit kulit, paru-paru hingga penyakit otak. Perkembangan bakteri yang berada pada handuk yang jarang di cuci sangat cepat, bisa sampai 20 menit dapat membelah diri menjadi ribuan. Hal ini diperparah dengan tingkat kelembaban tinggi yang mendukung pertumbuhan bakteri. Ini yang perlu diketahui bagaimana bakteri dapat tumbuh serta siklus dan perkembangan bakteri yang mendukung ada pada handuk kita. 

Sebagai pengontrolnya, kita bisa menjemur handuk di tempat yang kering dan terik ketika selesai menggunakannya. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi tingkat kelembaban, sehingga perkembangan bakteri bisa dikurangi. Kelly Reynold, seorang peneliti dari University of Arizona mengungkapkan bahwa tidak menjemur handuk di tempat yang lembab, yang akibatnya justru mempercepat perkembangan bakteri yang terdapat dalam handuk. Mencuci handuk menggunakan detergen yang efektif untuk membunuh bakteri. Walaupun kita sudah mencuci handuk dengan detergen dan sudah mengeringkannya, itu hanya sedikit mengurangi kontaminasi mikroba. Bakteri tersebut akan muncul kembali jika kondisi handuk tetap basah. 

Charles kembali menjelaskan bahwa Coliform, Escerichia coli dan Salmonella tidak mudah mati dan bertahan saat proses pengeringan kain atau handuk. Bakteri tersebut bisa saja hidup dan tumbuh kembali jika lap dan handuk basah atau lembab lagi (Hestianingsih, Wolipop.com 2014).

 Para peneliti dari University of Arizona mengungkapkan bahwa handuk yang sering dipakai sebagai lap tangan atau sebagai alas tangan mengangkat panic mengandung bakteri yang sangat banyak. Handuk tersebut mengandung 89% bakteri coliform dan 25,6% bakteri Escheria coli. Dua bacteria tersebut dapat memicu timbulnya penyakit kulit, diare, bahkan kanker. 

Bakteri Coliform merupakan golongan mikroorganisme yang lazim digunakan sebagai indicator, di mana bakteri ini dapat menjadi sinyal untuk menentukan suatu sumber air telah terkontaminasi oleh pathogen atau tidak. Berdasarkan penelitian, baktei Coliform ini menghasilkan zat etionin yang dapat menyebabkan kanker apabila terkontaminasi dengan manusia atau hewan. Selain itu juga bakteri pembusuk ini juga memproduksi bermacam-macam racun seperti indol dan skatol yang dapat menimbulkan penyakit bila jumlahnya berlebih di dalam tubuh. Bakteri Coliform dapat digunakan sebagai indicator karena densitasnya berbanding lurus dengan tingkat pencemaran air. Bakteri ini juga memiliki daya tahan yang lebih tinggi dari pada pathogen serta lebih mudah diisolasi dan ditumbuhkan.

Bakteri Coliform merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang dan beberapa galur dari bakteri tersebut, terutama Eschericia coli diketahui dapat mengakibatkan diare pada manusia dan hewan. Pada umumnya, penyakit bacterial tersebut ditularkan melalui air yang tercemar ketika mandi dan menggunakan handuk untuk mengeringkannya, sehingga handuk terkontaminasi oleh bakteri Escerichia coli. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa kandungan Coliform dalam air sumur daerah karangmalang adalah jauh dari ambang batas normal yang ditetapkan WHO (Wuryastuti, Jurnal Sain Veteriner 2000). 

Gerba mengatakan guna mematikan bakteri, jamur, dan kuman pada handuk, baik itu handuk mandi atau lap handuk di dapur, mencucinya menggunakan mesin cuci saja tidak cukup. Bahkan, merendam handuk di cairan pemutih selama 2 menit dikatakan Gerba lebih efektif membunuh kuman dan bakteri. 

Sementara itu, Prof Anthony Hilton, kepala biological and biomedical sciences di Aston University menuturkan bakteri bisa bertahan hidup sampai di suhu 37 derajat. Maka dari itu ia menyarankan sebaiknya handuk di rendam terlebih dahulu dengan air hangat sebelum mencucinya. 

Ketua Laboratorium Mikrobiologi FKUI, Anis Karuniawati, menegaskan pentingnya menjaga kebersihan dengan mencuci dan mengganti peralatan rumah berbahan kain khusunya handuk secara rutin. Anis mengatakan waktu yang ideal untuk mengganti handuk adalah setiap hari atau paling lama 3 hari sekali. 

Tubuh manusia bisa mentransfer kuman atau bakteri ketika menggunakan handuk mandi saat kondisi tubuh kotor atau sekadar mengeringkan wajah serta tangan setelah dari kamar mandi. Apalagi, setelah itu tangan digunakan untuk mengambil makanan dan dimasukkan ke mulut, infeksi pun bisa terjadi. (Gerba, ABC News 2014). 

Bahaya terbesar dalam makanan adalah adanya bakteri pathogen dalam makanan akibat terkontaminasinya makanan dari bakteri Coliform yang terdapat dalam handuk. Bakteri Coliform dan Escerichia coli apabila bercampur dengan makanan dapat menyebabkan keracunan makanan. Makanan masak merupakan campuran bahan yang lunak dan sangat disukai oleh bakteri. Kondisi yang optimum bagi bakteri pathogen dalam makanan akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlipat ganda dalam janka waktu antara 1-2 jam. Depkes RI (1999) menyebutkan bakteri akan tumbuh dan berkembang dalam makanan dengan suasana yang cocok untuk pertumbuhan bakteri diantaranya adalah suasana makanan yang banyak protein dan banyak air, pH normal (6,8-7,0) serta suhu optimum 10 oC -60oC. 

Bakteri Coliform dan Escerichia coli apabila bercampur dengan makanan dapat menyebabkan keracunan makanan. Hal ini disebabkan oleh tertelannya racun (toksin) yang diproduksi oleh bakteri selama tubuh dalam makanan. Gejala keracunan makanan oleh bakteri dapat berupa sakit perut, diare, mual, muntah atau kelumpuhan. Escerichia coli secara normal terdapat pada saluran usus besar/kecil pada anak-anak dan orang dewasa sehat, dan jumlahnya dapat mencapai 109 CFU/g. Jika makanan yang telah terkontaminasi bakteri ini masuk ke dalam saluran pencernaan, akan menimbulkan gejala sakit perut, mual, muntah dan diare. Waktu inkubasi E.coli 8-24 jam (rata-rata 11 jam). Escerichia coli termasuk bakteri Gram negative yang tidak membentuk spora, berbentuk batang, anaerob fakultatif dan tergolong dalam family Enterobacteriaceae dengan suhu optimal bagi pertumbuhannya adalah 37oC. Bakteri E.coli akan tumbuh pada kisaran pH 4,4-8,5.

 Referensi ; 

Fadilah Noor, Meiry. Mikrobiologi Dasar. Ciputat: Program studi pendidikan biologi. 2011

Wuryastuti, Analisis Bakteri Coliform dalam Air Sumur dan Kemungkinan Efek Biopatologik. jurnal sain veteriner. 2000

Anonim.Mikroba.http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/NUTRISI%20MIKROBA%20A.pdf. Diakses pada tanggal 22 April 2015 pukul 20.53 WIB. 

Anonim. Bakteri dan Kuman bisa tumbuh subur di handuk.http://health.detik.com/read/2014/11/16/100939/2749482/763/hii-bakteri-dan-kuman-pun-bisa-tumbuh-subur-di-handuk-mandi. Diakses pada tanggal 22 April 2015 pukul 21.05 WIB 

Anonim. Mikrobiologi.http://eprints.unsri.ac.id/1786/2/Mikrobiol2012_OK.pdf. Diakses pada tanggal 22 April 2014 pukul 20.44 WIB 

Aguswirawa. BABIISN. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/113/jtptunimus-gdl-aguswirawa-5641-2-babiis-n.pdf. Diakses pada tanggal 22 April 2015 pukul 20.34 WIB. 

Baihaqi,Muhammad.BAB2KTI.http://eprints.undip.ac.id/44843/3/MuhammadBaihaqyIbnuHakim_22010110110133_Bab2KTI.pdf. Diakses pada tanggal 22 April 2015 pukul 20.35 WIB. 

Gerba. Mikroba pada Handuk. http:abcnews.com/mikroba-pada-handuk/pdf. Diakses pada tanggal 22 April 2015 pukul 21.00 WIB.

Hestianingsih, Handuk mandi benda paling banyak sebarkan kuman di rumah.  http://wolipop.detik.com/read/2014/11/17/162245/2750638/1135/handuk-mandi-benda-paling-banyak-sebarkan-kuman-di-rumah. Diakses pada tanggal 22 April 2015 pukul 20.36 WIB 

Sajida,Agsa.Balitbang.http://balitbang.pemkomedan.go.id/tinymcpuk/gambar/file/Agsa%20Sajida.pdf. Diakses pada tanggal 22 April 2015 pukul 20.56 WIB. 

Monday, January 5, 2015

Tugas UAS MEDTEK UIN Jakarta TA 2014/2015

postingan ini berisi buku bahan pelajaran biologi mengenai jaringan hewan, juga media interaktif berupa power point yang didalam nya berisi materi, video, audio, juaga evaluasi untuk mempermudah  memahami mata pelajaran biologi khususnya materi jaringan hewan.